Melihat gejala dan tren global maka semua indicator ekonomi masih akan membaik di tahun depan. Jika tidak ada shock yang datang tiba-tiba akibat fluktuasi harga minyak, guncangan nilai tukar mata uang maupun krisis keuangan seperti di Amerika Serikat beberapa tahun lalu maka kita tak perlu merasa cemas. Kalau pun performance menteri-menteri ekonomi masih datar-datar saja seperti sekarang, asalkan otoritas moneter berhasil menjaga stabilitas maka semua masih akan oke oke saja, dan bahkan akan mengalami ekspansi.
Kita akan cukup aman dengan harga minyak dunia antara 75 dan 90 dolar AS per barel, suku bunga SBI antara 6,2 dan 6,5 persen dan kurs rupiah antara Rp 9.100 dan Rp 9.400 per dolar AS. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah terus berupaya menggenjot sector riil yang agak melesu seperti garmen dan sektor UMKM secara keseluruhan mengingat dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja sangat besar. Jangan hanya mengandalkan sektor-sektor yang nilai investasinya besar seperti pertambangan dan perkebunan namun kurang banyak membutuhkan tenaga kerja.
Harus diakui sepanjang tahun 2010 keberhasilan pengendalian dari sisi moneter membuahkan hasil efektif. Namun apa artinya tanpa didukung pergerakan sektor riil yang cepat karena di situlah perekonomian tumbuh secara riil dan kita tidak akan lagi terjebak pada penggelembungan ekonomi (bubble economy) pada masa lalu karena hanya silau pada kemajuan di sektor keuangan.
— Sasongko Tedjo, wartawan Suara Merdeka, Penasihat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Semarang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar