Seorang anak ikut lomba balap mobil remote yang sebelumnya tidak diperhitungkan ternyata menang mencapai finish nomer satu. Wartawan menanya kepada anak tersebut yang sebelum start lomba terlihat khusuk berdoa, apa gerangan isi doa yang dipanjatkan? Jawabnya, "Tadi saya berdoa memohon agar SAYA TIDAK MENANGIS BILA MOBIL SAYA ternyata K A L A H." (ternyata doanya bukan untuk minta menang lomba!) Memang ada tuntutan menang, entah sejak kapan, sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: MEMBURU KEMENANGAN, mencampakkan kekalahan.
Sampai-sampai di Jepang dan berbagai belahan dunia, banyak orang mengakhiri hidupnya hanya karena kalah. Hal-hal yang melekat pada kekalahan atau bukan juara no. satu dinilai serba negatif, jelek, hina. Hal tersebut juga merambah keluarga yang menuntut anak jadi juara atau ranking satu. (Disekolah tertentu sudah menghapus sistem ranking, karena tiap anak dihargai kekhasan dan keunikan masing-masing sehingga anak belajar
saling menghargai dan pentingnya nilai/makna mensyukuri keajaiban hidup/ the wonderful of life)
saling menghargai dan pentingnya nilai/makna mensyukuri keajaiban hidup/ the wonderful of life)
Bersyukur bila menang itu biasa, bagaimana bila kalah? Ada orang yang menanggapi kemenangan dengan senyum juga ada yang dengan ekspresi menangis, namun menanggapi kekalahan atau menjadi nomer dua, nomer ... tidak menangis tapi bersyukur? Hanya orang bijaksana, yang mendalam pandangannya mampu melakukannya karena kalah juga indah. Orang bijaksana berujar, kekalahan lebih memuliakan perjalanan hidup dibandingkan kemenangan. Kekalahan menghaluskan kesabaran, kerendahan hati, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan.
Ada bisikan halus, kalah juga indah, lho! Coba Renungkanlah manusia mengukir makna kehidupan, penghargaan kemanusiaan sering terjadi justru bukan ditengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah membuat manusia lupa diri. Apa beda pejabat zaman Soekarno dengan sekarang? Mereka mengalami kesedihan dipenjara dulu baru menjabat di zaman Soekarno, pasca reformasi menjabat dengan gaji jauh
lebih besar tapi kemudian masuk penjara. Para pahlawan mengukir makna yang mengagumkan dan karakter mulia seperti pengabdian, pengorbanan, mementingkan rakyat, integritas sesudah melewati kesedihan perjuangan atau di penjara.
lebih besar tapi kemudian masuk penjara. Para pahlawan mengukir makna yang mengagumkan dan karakter mulia seperti pengabdian, pengorbanan, mementingkan rakyat, integritas sesudah melewati kesedihan perjuangan atau di penjara.
Bandingkan dengan perjalanan iman rasul Paulus yang bermegah bukan atas perkara-perkara yang biasa manusia suka menonjolkan diri, melainkan atas kelemahan. Kata beliau, justru dalam kelemahanlah, kuasa Kristus menjadi sempurna, supaya tidak menyombongkan diri. Apakah karena hal tersebut, membuat Beliau begitu produktif menulis surat-surat yang menghibur dan menguatkan?
Sesungguhnya bila saya nomer dua, orang lain harus berjuang untuk bisa menang dan menjadi nomer satu. Dalam suatu pertandingan, menang WO tentu paling tidak berkesan. Tapi berjuang makin keras karena menemukan mitra tanding yang sepadan, itulah yang menguras tenaga dan berkesan. Menang nomer satu berkat nomer dua yang hebat membuatnya harus mengeluarkan semua potensi, strategi, daya yang terpendam yang mengasah dirinya makin tajam dan hebat, bukan?
Bila harus menjadi nomer dua, bersyukurlah karena membuat orang lain unggul, dihormati. Belajar turut bersukacita bila ada rekan (anggota Tubuh )dihormati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakan besar sekali. Nyaris semua orang tak ingin kalah atau jadi nomer dua, tetapi kekalahan adalah ibu kesabaran.
Met berjuang bersyukur walau bukan nomer satu,
1 komentar:
Awesome
Posting Komentar