Pada suatu hari seorang pastor yang sedang berkeliling mengunjungi umatnya, mampir di rumah keluarga petani. Ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah dari seorang bocah, anak tunggal dalam keluarga itu ,yang baru berusia empat tahun.
Pastor itu akhirnya dapat menemukan satu alasan mengapa bocah itu bersikap begitu baik dan manis. Saat itu ibu si bocah berada di dapur & sedang mencuci bagian-bagian lemari es yang kotor. Pada saat yang bersamaan si bocah kecil dan ramah tadi datang menghampiri ibunya yang lagi sibuk membersihkan lemari es dengan sebuah majalah di tangannya dan, ”Mami, apa yang sedang dilakukan orang dalam foto ini? Tanya si bocah kepada maminya yang lagi sibuk itu.
Sang ibu segera mengeringkan tangannya, duduk di kursi, memangku si bocah dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit menjawab pertanyaan-pertanyaan putranya dengan lembut.
Setelah anak itu puas dengan penjelasan maminya, ia segera turun lalu berlari ke halaman rumah mereka untuk bermain.
Sang pastor mengomentari perlakuan dan sikap istimewa dari si ibu itu terhadap putranya, ”Kebanyakan kaum ibu tidak mau diganggu seperti itu kalau lagi sedang sibuk dengan pekerjaannya, kadang mereka menyuruh si anak untuk bertanya ke bapaknya atau ke pembantunya atau ke kakaknya. Bisakah ibu memberikan saya sedikit penjelasan dari sikap istimewa ibu terhadap putramu tadi?”
“Pastor, saya masih dapat membersihkan lemari es itu selama sisa hidup saya, tetapi tidak akan pernah lagi pertanyaan itu ditanyakan kepada saya ketika saya menyuruh putraku untuk bertanya kepada yang lain.”
Pastor itu akhirnya dapat menemukan satu alasan mengapa bocah itu bersikap begitu baik dan manis. Saat itu ibu si bocah berada di dapur & sedang mencuci bagian-bagian lemari es yang kotor. Pada saat yang bersamaan si bocah kecil dan ramah tadi datang menghampiri ibunya yang lagi sibuk membersihkan lemari es dengan sebuah majalah di tangannya dan, ”Mami, apa yang sedang dilakukan orang dalam foto ini? Tanya si bocah kepada maminya yang lagi sibuk itu.
Sang ibu segera mengeringkan tangannya, duduk di kursi, memangku si bocah dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit menjawab pertanyaan-pertanyaan putranya dengan lembut.
Setelah anak itu puas dengan penjelasan maminya, ia segera turun lalu berlari ke halaman rumah mereka untuk bermain.
Sang pastor mengomentari perlakuan dan sikap istimewa dari si ibu itu terhadap putranya, ”Kebanyakan kaum ibu tidak mau diganggu seperti itu kalau lagi sedang sibuk dengan pekerjaannya, kadang mereka menyuruh si anak untuk bertanya ke bapaknya atau ke pembantunya atau ke kakaknya. Bisakah ibu memberikan saya sedikit penjelasan dari sikap istimewa ibu terhadap putramu tadi?”
“Pastor, saya masih dapat membersihkan lemari es itu selama sisa hidup saya, tetapi tidak akan pernah lagi pertanyaan itu ditanyakan kepada saya ketika saya menyuruh putraku untuk bertanya kepada yang lain.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar